Contoh Tembang Pucung Bahasa Jawa (Arti, Watak & Aturannya Lengkap)

tembang pucung

Tembang Pucung – Hai sobat gopensil, sudah lama sekali tidak merawat dan melakukan update pada blog ini, selain karena males juga karena bingung mau nulis apa lagi.

Setelah beberapa lama diam dirumah, kepo-kepo nyari informasi mengenai tembang macapat. Lalu muncullah ide untuk menulis salah satu daripadanya, yakni tembang pucung.

Sebelumnya saya juga kurang paham, apa itu tembang pucung. Apakah sobat juga belum tau apa yang dimaksud dengan tembang pucung? Nah kalau begitu, tulisan dibawah ini, mungkin dapat membantu sobat.

Pengertian Tembang Pucung

Pengertian Tembang Pucung

Dikutip dari beberapa sumber, apa sih arti tembang pucung? Pucung merupakan salah satu dari 12 puisi Jawa atau juga dapat disebut dengan tembang macapat yang sederhana.

Pucung juga disebut dengan tembang pocung. Tembang macapat pocung ini, memiliki watak yang jenaka, berisi sebuah tebakan dan berbagai hal lucu lainnya.

Meskipun berisikan berbagai hal lucu, namun tembang pucung ini juga digunakan sebagai perantara untuk memberikan sebuah nasihat dan berisi berbagai macam pelajaran bagi manusia.

Sehingga dapat membawa kehidupannya kedalam kehidupan yang harmonis, baik lahir maupun batin.

Pada umumnya, tembang pucung diciptakan untuk memberi sebuah pesan pada manusia, jika sebuah ilmu yang baik memiliki hal yang sangat berguna dan akan membawa banyak manfaat pada diri seseorang.

Ilmu mampu membawa perubahan yang sangat baik bagi yang mau mencarinya. Dan jika suatu ilmu itu didasari oleh budi pekerti yang luhur, maka dapat menghalau segala bentuk sifat jahat didunia ini.

Watak Tembang Pucung

Watak tembang macapat pucung merupakan sembrana parikena, yang biasa digunakan dalam menceritakan suatu hal yang ringan, jenaka dan juga teka-teki.

Meskipun berisi hal yang ringan dan jenaka atau lucu, akan tetapi didalamnya terdapat sebuah pesan yang mengandung berbagai nasihat-nasihat yang berguna untuk membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam, lingkungan dan juga Tuhan.

Aturan Membuat Tembang Pucung

Aturan Membuat Tembang Pucung

Pucung memiliki watak kendur, tanpa adanya klimaks dan tujuan dalam sebuah certa. Selain itu dalam membuat pucung tidak boleh asal buat, karena ada beberapa aturannya.

Adapun aturan yang harus kita ketahui dalam membuat tembang pucung adalah seperti dibawah ini:

Guru Gatra Tembang Pucung

Guru gatra tembang pucung terdiri dari 4 larik kalimat (Guru gatra = 4).

Guru Wilangan Tembang Pocung

Guru wilangan = 12, 6, 8, 12. Artinya adalah, setiap kalimat harus memiliki suka kata seperti diatas.

Kalimat yang pertama memiliki 12 suku kata, kalimat kedua memiliki 6 suku kata, kalimat ketiga memiliki 8 suku kata dan yang keempat terdiri dari 12 suku kata.

Guru Lagu Tembang Pocung

Guru lagu = u, a, i, a. Maksudnya adalah setiap akhir suku kata dari setiap kalimat, harus bervokal u, a, i, a.

Misalnya seperti ini:

Ngel mu i ku, ka la ko ne kan thi la ku
Terdiri dari 12 penggalan dan vokal terakhir adalah u
Guru lagu dilihat huruf vokal pada akhir larik.

Le ka se la wan kas
Terdir dari 6 penggalan dan vokal terakhir adalah a.

Te ge se kas nya nto sa ni
Terdiri dari 8 penggalan dan vokal terakhir adalah huruf i.

Set ya bu dya pa nge ke se dur ang ka ra
Terdiri dari 12 penggalan dan vokal terakhir adalah huruf a.

Sehingga jika digabungkan menjadi : 12u, 6a, 8i, 12a.

Contoh Tembang Pucung dan Artinya

Contoh Tembang Pucung dan Artinya

Dibawah ini adalah beberapa contoh tembang pocung yang lengkap dengan artinya :

Contoh 1

Bapak pucung dudu watu dudu gunung
Sangkamu ing sabrang
Ngon ingone Sang Bupati
Yen lumampah Si pucung lambehan grana

Yang artinya :

Bapak pocung bukan batu bukan gunung,
Asalmu dari seberang,
Peliharaannya sang Bupati,
Kalau berjalan si pocung hidungnya melambai.

(Jawabannya adalah gajah).

Contoh 2

Bapak pucung cangkemu marep mandhuwur
Sabane ing sendhang
Pencokane lambung kering
Prapteng wisma si pucung mutah kuwaya

Yang artinya :

Bapak pucung mulutmu menghadap ke atas,
Perginya ke mata air,
Hinggapnya di pinggang kiri,
Sampai rumah si pucung memuntahkan air.

(Jawabannya adalah Klenthing, sebuah alat untuk mengambil air dari tanah liat).

Contoh 3

Bapak pucung renten-renteng kaya kalung
Dawa kaya ula
Pencokanmu wes miring
Sing disaba si pucung mung turut kutha.

Yang artinya :

Bapak pucung berangkai seperti kalung,
Panjang laksana ular,
Tempat bertenggermu besi mring,
Yang didatangi si pucung dari kota ke kota.

Jawabannya adalah kereta api.

Contoh 4

Namung tutuk lan netra kalih kadulu
Yen pinet kang karya
Sinuduk netrane kalih
Yeku saratira bangkt ngemah-ngemah.

Yang artinya :

Hanya mulut dan mata dua terlihat,
Bila diminta kinerjanya,
Ditusukkan matanya yang dua,
Itulah syarat dia mengunyah.

Jawabannya adalah gunting.

Contoh 5

Ngelmu iku kalakone kanthi laku
Lekase lawan kas
Tegese kas nyantosani
Setya budaya pangekese dur angkara.

Yang artinya :

Ilmu itu hanya dapat diraih dengan cara dilakukan dalam perbuatan,
Dimulai dengan kemauan,
Artnya kemauan yang menguatkan,
Ketulusan budi dan usaha adalah penakluk kejahatan.

Contoh 6

Angkara gung neng angga anggung gumulung
Gelolonganira
Triloka lekeri kongsi
Yen den umbar ambabar dadi rubeda.

Yang artinya :

Kejahatan besar di dalam tubuh kuat menggelora,
Menyatu dengan diri sendiri,
Menjangkau hingga tiga dunia,
Jika dibiarkan akan berkembang menjadi bencana.

Contoh 7

Beda lamun kang wus sengsem reh ngasamun
Semune ngaksama
Sasamane bangsa sisip
Sarwa sareh saking mardi martatama.

Yang artinya :

Tetapi berbeda dengan yang sudah suka menyepi,
Tampak sifat pemaaf,
Antar manusia yang penuh salah,
Selalu sabar dengan jalan mengutamakan sikap rendah hati.

Contoh 8

Taman limut durgameng tyas kang weh limput
Karem ing keramat
Karana karoban ing sih
Sihing sukma ngebda saardi pengira.

Yang artinya :

Dalam kabut kegelapan, angkara dihati yang selalu menghalangi,
Larut dalam kesakralan hidup,
Karena tenggelam dalam kasih sayang,
Kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung.

Contoh 9

Yeku patut tinulat tulat tinurut
Sapituduhira
Aja kaya jaman mangkin
Keh pra mudha mundhi diri Rapal makna.

Yang artinya :

Sebenarnya itulah yang pantas dilihat, dicontoh dan juga patut diikuti,
Sebagai nasehatku,
Jangan seperti jaman nanti,
Banyak anak muda menyombongkan diri dengan hafalan arti.

Contoh 10

Durung becus kesusu selak besus
Amaknai rapal
Kaya sayid weton mesir
Pendhak pendhak angendhak gunaning jalma.

Yang artinya :

Belum mumpuni wes tergesa-gesa untuk berceramah,
Mengartikan hafalan,
Seperti sayid dari Mesir,
Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.

Selain ke 10 contoh diatas, dibawah ini juga termasuk salah satu contoh tembang pucung dengan tema pendidikan.

Contoh 11

Sapa iku, ora seneng ngudi ilmu,
Uripe rekasa,
Senenge kepati-pati,
Ora sugih ananging ora rumangsa.

Contoh 12

Dadi bocah kudu sregep lan sinau,
Ben ora rekasa,
Sinaune ditenani,
Yen wis sukses aja lali maring wong tuwo.

Contoh 13

Shalat iku kewajibane ingkang laku,
Lekase kat fajar,
Ibadah kang pancen wajib,
Shalat iku cagakke saka agama.

Contoh 14

Urip iku madep mantep lan mituhu,
Jo padha sembrono,
Nyembaho marang Kuasa,
Manungsa mung ngunduhi wohing pakarti.

Contoh 15

Ana weling, saka bapa kalih biyung,
Aja seneng lunga,
Jomeneh lungane wengi,
Yen dilanggar cah ayu iku bebaya.

Contoh 16

Yen sinau, ojo karo tura-turu,
Atine sing bungah,
Supaya ngelmune becik,
Lakonono kanggo uripmu kang mulya.

Contoh 17

Murid iku wajb bekti lan mituhu,
Pituturing dwija,
Sabarang reh ngati ati,
Tata krama empan papan katindakno.

Contoh 18

Dadi uwong kudu sregep sing sinau,
Ojo dho sembrana,
Ilmu mesti migunai,
Kanggo awak dewe bangsa lan negara.

Sumber : widyarini29.blogspot.com

Contoh 19

Resik iku perangan iman satuhu,
Melu sabyantua,
Program pemerintah sayekti,
Lahir batin mbudidaya adipura.

Selain itu, masih ada beberapa contoh lagi mengenai tembang pocung dalam serat kancil dibawah ini.

Contoh 20

Mandheg mangu si kancil ng lampahipun,
Sakedhap angungak,
Sigra denira andhelik,
Ngulap-ulap si kancil sadangunira.

Contoh 21

Mangu mangu si kancil kendel adangu,
Ngud kang wardaya,
Yen nyata manusa yekti,
Pesthi obah lunga saking panggonan.

Contoh 22

Iku dudu sutingali nora maju,
Eca malang kadhak,
Mulya ana angin midid,
Mayug-mayug wewedi lir jumangkaha.

Contoh 23

Kancil gugup andhelk maras kalangkung,
Dangu ingantosan,
Mayug-mayug tan lumaris,
Duh kteng tyas sumyar gandanng kusuma.

Contoh 24

Pan sumawur mekaring pudhak gandarum,
Rumabaseng kisma,
Maletuk kaken tang tasik,
Sumarambah karya barubahing driya.

Contoh 25

Lunging gadhung tumiyeng pnggir margagung,
Lir ngawe-aweya,
Atur sekare umiring,
Isthanipun lumaki yen pinethika.

Contoh 26

Sekar andul kalak kenanga keneng kung,
Kedah ingagema,
Maring kang amurweng tulis,
Semuning kang puspa karaseg wardaya.

Contoh 27

Dayanipun kusuma mrih marum-arum,
Maresep ri kang tyas,
Sekar sumarsana wilis,
Tulus arum rarase menuhi grana.

Nah setelah sobat sudah mengetahui beberapa contoh tembang macapat pocung diatas, pernahkah sobat berfikir “sebenarnya apasih makna atau filosofi yang ada pada tembang pucung ini?”.

Nah biar nggak penasaran, berikut ini adalah filosofi yang terkandung dalam tembang pocung.

Filosofi Tembang Pucung

Filosofi Tembang Pucung

Tembang macapat pucung atau juga dapat disebut dengan pocung berasal dari kata cung, dan selanjutnya terbentuklah kata pucung, kuncung dan kacung, yang memiliki arti lucu.

Ada juga yang berpendapat bahwa nama tersebut diambil dari nama pohon atau buah yang bijinya dkenal dengan sebutan kluwak atau pucung.

Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa kata pucung memiliki hubungan dengan pocong.

Bagi orang-orang di Jawa, badan wadag yang sudah ditinggalkan ruh akan dirawat dan disucikan terlebih dahulu sebelum dikembalikan kedalam tanah.

Jasad akan dimandikan terlebih dahulu kemudian dibungkus dengan lembaran kain putih, yang merupakan lambang kesucian.

Lalu apa hubungannya?

Tembang macapat pucung, adalah tembang yang digunakan sebagai pengingat atas datangnya kematian. Karena tidak satupun manusia yang mampu mengetahui tentang apa yang akan terjadi setelah kematiannya.

Semua itu menjadi sebuah teka-teki, walupun demekian, setiap orang berhak untuk menebak. Oleh karena itulah tembang macapat pucung ini berisi tentang teka-teki, walaupun kadang bersifat jenaka.

Namun dari sini, manusia dituntut untuk dapat berpikir, mengkaji serta mencari jawaban atas teka-teki tersebut.

Penutupan

Nah itulah beberapa contoh mengenai tembang pocung yang dapat saya bagikan lengkap dengan artinya. Semoga bermanfaat, jangan lupa untuk mampir lagi di sini ya sobat.. terima kasih 🙂 .

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *