Contoh Tembang Gambuh (Pengertian, Arti, Lirik, Watak dan Maknanya)

Tembang Gambuh

Contoh Tembang Gambuh – Jawa, merupakan salah satu Pulau di Nusantara ini yang kaya akan kebudayaannya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, yang membuat zaman terus berkembang, membuatnya terkikis oleh budaya baru (barat).

Di zaman kita sekarang ini, budaya Jawa sudah mulai ditinggalkan, mungkin kita menganggapnya budaya kuno. Kita lebih memilih budaya modern yang penuh dengan gaya alias style.

Tentu saja hal ini memang keren, tapi sesuatu yang keren itu nggak hanya dilihat dari penampilan saja, namun dari sisi dalamnya. Yang mengandung makna dan arti yang begitu dalam.

Salah satu budaya Jawa yang kini sudah mulai ditinggalkan adalah tembang macapat. Dan salah satu dari 11 tembang macapat yang ada, yang didalamnya mengandung banyak pelajaran dan pendidikan adalah tembang gambuh.

Sebagai penerus bangsa yang baik dan pintar, tentu saja kita harus mengetahui sejarah kita, bagaimana karakter kita dan bagaimana sikap kita seharusnya.

Nah oleh karena itu, disini kita akan belajar bersama, membahas mengenai apa itu pengertian tembang gambuh?, makna, isi tembang gambuh serta watak yang terdapat didalam tembang gambuh.

Pengertian dan Makna Tembang Gambuh

tembang macapat gambuh

Tembang gambuh berasal dari kata jumbuh dalam bahasa Jawa, yang berarti “sesuai, tepat atau cocok, sepaham dan kebijaksanaan”.

Bijaksana disini memiliki arti, mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya, serta mampu bersikap adil dalam setiap keadaan.

Tembang macapat gambuh sendiri memiliki isi yang berupa ajaran tentang sebuah nasihat teruntuk generasi muda dalam bergaul, bersikap dan juga tingkah-laku dalam menjalin sebuah hubungan, baik dengan teman, sahabat ataupun masyarakat.

Watak Tembang Gambuh

watak tembang gambuh

Adapun watak tembang gambuh diantaranya adalah sumanak yang berarti ramah pada siapapun, sumadulur yang berarti persaudaraan yang erat, mulang yang berarti mengajarkan dan pitutur yang memilki arti sebuah nasihat.

Tembang macapat gambuh pada umumnya digunakan oleh para orang tua untuk menasehati anaknya dan juga generasi muda, agar dapat membangun kehidupan antar sesama.

Salah satunya ialah bagaimana bersikap yang baik dan bijaksana terhadap semua orang, serta mampu menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya dan berlaku adil.

Ciri-Ciri Tembang Gambuh

ciri ciri tembang gambuh

Ciri-ciri dari tembang macapat gambuh adalah sebagai berikut :

  1. Mempunyai Guru Gatra : 5 baris setiap baitnya,
  2. Mempunyai Guru Wilangan : 7, 10, 12, 8, 8. Maksudnya adalah, pada baris pertama terdiri dari 7 suka kata, baris kedua terdiri dari 10 suku kata, baris ketiga berisi 12 suku kata, baris ke empat terdiri dar 8 suku kata dan baris ke lima juga terdiri dari 8 suku kata.
  3. Mempunyai Guru Lagu : “u, u, i, u, o”. Maksudnya adalah, pada baris pertama berakhir dengan vokal “u”, baris kedua berakhir dengan vokal “u”, baris ketiga berakhir dengan vokal “i”, baris ke empat berakhir dengan vokal “u”, dan yang terakhir berakhir dengan vokal “o”.

Contoh seperti pada gambar dibawah ini :

contoh nada tembang macapat gambuh serat wulangreh

Lihat juga contoh tembang pucung pada artikel sebelumnya ya 😀

Contoh Tembang Gambuh Beserta Artinya

Contoh Tembang Gambuh Beserta Artinya

Berikut adalah beberapa contoh tembang macapat gambuh yang terdapat dalam Serat Wulangreh Pupuh III karya dar Sr Susuhunan Pakubuwana IV, Raja Surakarta.

Ing wong urip puniku,
“Dalam kehidupan manusia”.
Aja nganggo ambek kang tetelu,
“Jangan sampai memiliki watak ketiga tadi”.
Anganggowa rereh ririh ngati-ati,
“Milikilah sifat sabar, cermat dan berhati-hati”.
Den kawangwang barang laku,
“Selalu instropeksi pada tingkah laku”.
Kang waskitha solahing wong,
“Pandailah membaca perilaku orang lain”.

Ambek adigung iku,
“Watak orang adigung adalah”.
Angungasaken ing kasuranipun,
“Menyombongkan keperkasaannya”.
Para tantang candhala anyenyampahi,
“Semua ditantang berkelahi dan disepelekan”.
Tinemenan nora pecus,
“Jika benar dihadapi, ia tak berdaya”.
Satemah dadi geguyon,
“Akhirnya hanya jadi bahan tertawaan”.

Adiguna puniku,
“Watak adiguna adalah”.
Ngandelaken kapinteranipun,
“Menyombongkan kepandaiannya”.
Samubarang kabisan dipundheweki,
“Seolah semua bisa dilakukan sendiri”.
Sapa bisa kaya ingsun,
“Siapa yang bsa seperti aku”.
Togging prana nora enjoh,
“Ujung-ujungnya tak bisa apa-apa”.

Iku upamanipun,
“Itu sebuah perumpamaan”.
Aja ngandelaken sira iku,
“Jangan menyombongkan diri”.
Suteng nata iya sapa kumawani,
“Seorang raja siapa yang berani”.
Iku ambeke wong digang,
“Itu perilaku yang adigang”.
Ing wasana dadi asor,
“Yang akhirnya bisa merendahkan”.

Si kidang ambegipun,
“Si kijang memiliki watak”.
Angandelaken kebat lumpatipun,
“Menyombongkan kecepatannya melompat/berlari”.
Pan si gajah angandelaken gung ainggil,
“Si gajah menyombongkan tubuhnya yang tinggi besar”.
Ula ngandelaken iku,
“Ular menyombongkan”,
Mandine kalamun nyakot,
“Keampuhannya dengan menggigit”.

Ana pocapanipun,
“Ada sebuah ungkapan”.
Adiguna adigang adigung,
“Adiguna, adigang, adigung”.
Pan adigang kidang adigung pan esthi,
“Seperti adigangnya kijang, adigungnya gajah”.
Adiguna ula iku,
“Adgunanya ular”,
Telu psan mati sampyoh,
“Ketiganya mati bersama dengan sia-sia”.

Tutur bener puniku,
“Ucapan yang benar itu”.
Sayektine apantes tiniru,
“Sejatinya pantas untuk di ikuti”.
Nadyan metu saking wong sudra papeki,
“Meskipun keluar dari orang yang rendah derajatnya”.
Lamun becik nggone muruk,
“Jika baik dalam mengajarkan”.
Iku pantes sira anggo,
“Itu pantas kamu pakai”.

Aja nganti kabanjur,
“Jangan sampai terlanjur”.
Barang polah ingkang nora jujur,
“Bertingkah polah yang tidak jujur”.
Yen kebanjur sayekti kojur tan becik,
“Jika terlanjur tentu akan celaka dan tidak baik”.
Becik ngupayaa iku,
“Lebih baik berusahalah”.
Pitutur ingkang sayektos,
“(Mengajari) ajaran yang sejati”.

Sekar gambuh ping catur,
“Tembang gambuh keempat”.
Kang cinatur polah kang kalantur,
“Yang dibicarakan tentang perilaku yang kebablasan”.
Tanpa tutur katula-tula katali,
“Tanpa nasehat terjerat penderitaan”.
Kadaluwarsa kapatuh,
“Terlanjur menjadi kebiasaan”.
Kapatuh pan dadi awon,
“Kebiasaan bisa berakibat buruk”.

Tetelu pan nora patut,
“Ketiga-tiganya sungguh tak pantas”.
Yen tiniru mapan dadi luput,
“Jika ditiru justru akan menjadi salah (fatal)”.
Titikane wong anom kurang wewadi,
“Ciri ciri anak muda kurang menjaga diri”.
Bungah akeh wong kang ngunggung,
“Banyak orang yang menyanjung”.
Wekasane kajalomprong,
“Akhirnya akan terjerumus”.

Kumprung wong pengung bingung,
“Maklumlah orang bodoh yang bingung”.
Wekasane lali nora eling,
“Akhirnya lupa tidak ingat”.
Yen den gunggung katone amuncu-muncu,
“Disanjung menjad salah tingkah (mulutnya mencibir)”.
Wong pengung sangsaya dadi,
“Kebodohannya semakin menjadi”.
Kaya wudun meh mencothot,
“Mirip bisul yang mau pecah”.

Ing uwong kang anggunggung,
“Sementara orang yang menyanjung”.
Mung sepele ku pamrihipun,
“Cuma sederhana tujuannya”.
Mung warege wadhuke klimising lathi,
“Yaitu kenyangnya perut dan berminyaknya mulut”.
Lan telese gandhangipun,
“Dan basahnya tenggorokan”.
Rerubo alaning uwong,
“Bersandar pada kejelekan orang”.

Amrih wareke iku,
“Untuk kenyangnya itu”.
Yen wus warek gawe nuli gawe umuk,
“Jika sudah kenyang lantas mengamuk”.
Kang wong akeh kang sinuprih padha wedi,
“Dengan harapan orang banyak menjadi takut”.
Amasti tanpa pisungsung,
“Dan memastikan tanpa pemberian”.
Adol sanggap sakehing wong,
“Menjual perhatian kepada banyak orang”.

Yen wong mangkono iku,
“Jika orang yang demikian itu”.
Nora pantes pedhak lan wong agung,
“Tidak pantas dekat dengan orang besar”.
Nora wurung anuntun panggawe juti,
“Pada akhirnya cuma akan membawa perbuatan nista”.
Nanging ana pantesipun,
“Tapi ada baiknya juga”.
Wong mangkono didhedhoplok,
“Orang semacam itu ditendang saja”.

Aja kakehan sanggup,
“Jangan terlalu banyak berjanji”.
Durung weruh tuture agupruk,
“Belum tahu saja, bicaranya sudah berlebihan”.
Tutur nempil panganggepe wruh pribadi,
“Berbicara cuma meniru, seakan tahu dengan mata kepalanya sendiri”.
Pangrasane keh wong nggunggung,
“Dikiranya orang banyak akan menyanjung”.
Kang wus weruh amelengos,
“(tapi) yang sudah tahu akan membuang muka”.

Aja ngangg sireku,
“Janganlah engkau memakai”.
Kalakuan kang mangkono iku,
“Kelakuan yang seperti itu”.
Nora wurung cinirenen den titeni,
“Paling-paling akan dicatat dan di ingat”.
Mring pawong sanak kang weruh,
“Oleh siapa saja yang mengetahui”.
Nora nana kang pitados,
“Tak akan ada yang percaya”.

Video Tembang Macapat Gambuh


Penutup

Nah itulah penjelasan mengenai tembang gambuh, makna, dan pengertiannya lengkap.

Dari beberapa contoh tembang gambuh yang sudah saya tuliskan diatas, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari nasehat-nasehat yang terkandung didalamnya.

Sebelumnya mohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun artinya, kritik dan saran akan sangat bermanfaat bagi saya.

Terima kasih.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *