Saat Pertama Kali Mendaki Gunung Lawu

Pertama Kali Mendaki Gunung Lawu – Hay sobat Rumput Hidup, pada kesempatan kali ini saya akan bercerita mengenai pengalaman saya mendaki Gunung Lawu. Dan pendakian ini merupakan pendakian pertama kali saya digunung lawu.

Gunung Lawu merupakan sebuah gunung yang terletak di sebuah perbatasan antara Jawa Timur dengan Jawa Tengah. Dan juga terletak diantara tiga kabupaten, yakni kabupaten karang anyar, ngawi dan magetan.

Gunung lawu merupakan gunung api aktif yang masih istirahat, alias masih tidur. Jadi aman deh kalau kita mau daki disini. Gunung lawu sendiri memiliki beberapa puncak antara lain adalah Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi dari Gunung Lawu.

Puncak tertinggi dari Gunung Lawu sendiri adalah 3265 m. Selain itu track pendakiannya pun cukup mudah karena terdapat sebuah tangga batu yang sudah ditata dengan baik pada beberapa track. Track pendakian yang saya lalui merupakan track yang paling cepat (katanya sih) yakni melalui Pos pendakian Cemoro Sewu.

Pendakian Di Gunung Lawu Untuk Yang Pertama Kalinya

Nah saatnya berlanjut sebuah ceritanya dari sini. Pendakian ini merupakan pendakian pertama kalinya yang gagal kepuncak.

Namun banyak cerita yang berkesan pada gagalnya pendakian yang sebelumnya. Karena banyak hal menarik sekaligus konyol saat proses pendakian. Salah satunya yang menarik adalah saat bermalam di sebuah Musholla di dekatnya pos pendakian saya dan teman-teman bertemu dengan para Pejuang Agama hihi. Yaps mereka merupakan musafir yang berdakwah dari tempat ini ketempat lainnya, untuk menyebar luaskan Agama Islam, mereka bercerita berbagai kisah menarik selama di Musholla bareng kami.

Selain bisa mempunyai cerita dari mereka, mereka juga sangat baik, antara lain berbagi makanan, kopi, masak bareng dan banyak lainnya. Namun sayangnya saya cuman mengingat satu nama saja diantara Gerombolan para pendakwah tersebut, kalau nggak salah namanya adalah Mas Gum Gum. Hehe orangnya keren lah pokoknya.

Setelah lumayan malam, akhirnya kami semua memutuskan untuk tidur, dan jujur saja saya merupakan makhluk yang pertama kali tidur duluan saat di sini. Karena memang badai terus berlanjut dan dinginnya Masya Allah membekukan.

Tak berapa lama, teman saya membangunkan saya di pulasnya saya tertidur. Dia mengajak saya untuk pindah ke Pos Pendakian karena memang tempatnya lebih anget. Pada waktu itu adalah dua pasang orang (laki dan perempuan) yang mungkin masih pengantin baru sedang kedinginan di Musholla, dan saya kasihan dengan Mbaknya yang sampe menangis kedinginan. Karena mereka memang tidak membawa bekal apa-apa. Akhirnya kami ajak mereka berdua pergi ke Pos Pendakian supaya mendapat kehangatan.

Mentari Yang Seharusnya Sudah Menyapa di Pagi Hari

Pagi itu saya dan teman-teman sudah terbangun (kesiangan) dan pergi ke Musholla untuk sholat Subuh kesiangan. Setelah sholat subuh, kami berniat lanjut mendaki. Walaupun jalur pendakian ditutup kami masih saja menerobos pintu pendakian. Akhirnya karena banyak yang turun kami memutuskan untuk menggagalkan proses pendakian. dan kami bergegas untuk pulang kembali kerumah yakni ke ngawi kerumah teman saya.

Setelah beranjak turun menunggangi kuda besi yang berlari menuruni lereng gunung. Ditengah-tengan turunan kami berhenti sejenak dan memutuskan untuk kembali ke atas menaiki tanjakan dan kembali ke Pos Pendakian. Rencana nya kami tetap mendaki walau sudah dilarang dan pos pendakian di tutup.

Namun setelah bimbang, akhirnya kami menerobos lagi untuk mendaki sampai ke puncak. Dengan penuh kepercayaan diri kami langkahkan kaki untuk terus ke puncak, namun apa daya saat berada di antara Pos 1 dan Pos 2 badai semakin menerka. Perasaan takut pun bergelimang di dalam kepala dan merasuk kedalam hati. Akhirnya kami putuskan untuk kembali lagi ke bawah dan memacu kembali kuda besi yang sebelumnya sudah di pacu pergi menuruni lereng gunung XD.

Akhirnya kami benar-benar gagal mendaki hingga puncak. Namun tak apa, karena tujuan selanjutnya adalah pegi kedanau.

Menikmati Keasrian Telaga Sarangan di Lereng Gunung Lawu

Telaga Sarangan, merupakan pelarian selanjutnya setelah badai menghadang kami yang hendak pergi kepuncak untuk menyapa senja.

Telaga sarangan adalah sebuah danau yang terletak di lereng Gunung Lawu tepatnya sebelum menuju pos Pendakian Cemoro Sewu. Disini biasanya di pakai sebagai tempat memancing oleh orang-orang sekitar sana atau orang dari luar wilayah tersebut.

Yang kami lakukan disini adalah melamun, tidak bukan kami tepatnya saya sendiri yang melamun dan merenungi dan memikirkan dia yang ada disana XD. Sendainya dia sedang bersama di sampingku pada waktu itu, pasti tak ajak nyebur ke telaga dan tak carikan ikan untuknya.(tepatnya dia saja yang ku ceburin).

Dari siang hingga sore kami habiskan waktu ditelaga sarangan ini, Ya sekedar ngbisin makanan dan bekal yang hendak di buat cemilan di puncak. Selain itu juga tidur-tiduran, masak daun, pasir, tanah, kodok, dll.

Hingga pada akhirnya senja sudah mulai pamitan, kami pun berpamit dan beranjak dari tempat camp di sekitar telaga sarangan tersebut untuk menemani senja yang jauh diufuk sana.

Perjalanan Pulang Kerumah

Saatnya pulang dan istirahat, setelah senja sudah menampakkan jingganya kami pun terus bergegas untuk sampai pada tujuan kami selanjutnya, yaitu rumah.

Perjalanan yang begitu jauh karena kami harus memutari gunung lawu terlebih dahulu, karena memang Jalur Cemoro Sewu merupakan jalur dari Selatan sedangkan rumah tujuan pulang berada di Utara Gunung Lawu. Akhirnya bokongpun terasa panas hingga tak sadar sampe rumah sudah mateng XD.

Walaupun nggk jadi sampe kepuncak namun setidaknya perjalanan pulang kerumah, tak kalah indahnya karena di temani oleh sinar jingga dari barat yang di sampaikan oleh sang senja. Merupakan sebuah tanda perpisahan untuk berjumpa kembali suatu hari nanti.

Kayak aku denganmu, sekarang tak apa pisah dulu, In Syaa Allah nanti dipersatukan kembali oleh Allah SWT dengan cara yang lebih Indah, dan tentunya dengan persatuan yang Halal dan Atas Restu Kedua Orang Tua Kita dan Redho-Nya Allah SWT. Aamiin.. XD (Hanya harapan di dalam barisan do’a ku)

Dan sesampainya di rumah (rumah teman saya) Alhamdulillah kami bertiga di sambut dengan hidangan yang Mantaps dan siap di lahap sama piring dan atribut lainnya.

Begitulah kisahnya, dan perjalanan pun akan terus berlanjut. Begitupun doaku yang terus kupanjatkan kepada-Nya dengan namamu yang tersebut didalamnya hehe…

Terima Kasih.

  • Add Your Comment