Rumah Adat Bali (Pengertian, Candi Bentar, Ciri-Ciri & Bagiannya)

Rumah Adat Bali – Setelah kemaren sore telah dibahas Rumah Adat Papua dan Rumah Adat Sulawesi Selatan, pada kesempatan kali ini saya akan berbagi pengetahuan mengenai rumah adat Bali.

Pulau bali merupakan sebuah pulau yang paling banyak dicari dan diburu oleh wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, hal tersebut dikarenakan kergaman budaya di Bali yang begitu kaya.

Selain itu juga karena adat yang begitu kental masih dimiliki oleh Bali.

Selain keragaman budaya yang dimilikinya, Pulau Bali juga mempunyai banyak sekali destinasi wisata yang sangat indah dan menjanjikan untuk dinikmati oleh para wisatawan.

Hal tersebut didukung juga oleh masyarakat di Bali yang dikenal begitu baik dalam menjaga kelestarian budaya dan alam yang telah diwariskan oleh para leluhurnya kepada mereka sang penerusnya.

Begitupula dengan rumah adat yang ada di Bali, meskipun telah banyak sekali warga asing ataupun wisatawan asing yang keluar masuk pulau mereka.

Namun hal tersebut tidak dapat membuat mereka goyah dalam menjaga adat istiadat para leluhurnya dalam menjaga segala bentuk warisan yang diturun temurunkan pada mereka.

Nah untuk kesempatan kali ini, saya akan mencoba mengeksplor mengenai rumah adat yang ada di Pulau Bali, bagi sobat yang ingin tahu atau yang belum tahu tentang rumah adat bali bisa lanjut baca ya.

Ciri Khas Rumah Adat Bali

rumah adat bali, ciri khas rumah adat bali

Arsitektur dari bangunan rumah adat Bali mempunyai bentuk, struktur bangunan, fungsi dan juga ornamen yang diwariskan secara turun temurun.

Kebudayaan tersebut masih terjaga hingga saat ini. Saat kita pergi ke Pulau Bali atau juga banyak dikenal dengan Pulau Dewata ini, maka akan dengan mudah ditemukan rumah yang khas Pulau Dewata tersebut.

Meskipun pulau Bali sudah banyak dikenal dan banyak sekali wisatawan lokal hingga mancanegara yang mampir kesana, namun masyarakat Bali senantiasa tetap menjaga dan melestarikan kebudayaannya.

Pada zaman ini sudah banyak sekali orang yang mengadopsi arsitektur dari bangunan rumah adat tradisional Bali sebagai tempat hunian mereka. Menurut sejarah, rumah adat Bali tercantum dalam kitab suci Weda.

Menurut kepercayaan mereka, rumah adat Bali ini terdapat unsur miniatur alam semesta yang menjadi tempat segala aktivitas manusia.

Rumah Adat Bali terdiri dari dua bagian yakni Gapura Candi Bentar yang berfungsi sebagai rumah adat dan rumah biasa yang digunakan sebagai tempat hunian.

Dalam hal pembangunannya rumah adat Bali memiliki aturan dan ketentuan yang berlaku yang harus disesuaikan. Misalnya letak bangunan, arah desain, dimensi pekarangan, konstruksi dan juga struktur bangunannya harus mengikuti aturan yang ada.

Gapura Candi Bentar

rumah adat bali, gapura candi bentar

Rumah Gapura Candi Bentar sejatinya merujuk terhadap bangunan gapura yang merupakan sebuah gerbang rumah-rumah adat di Bali.

Gapura Candi Bentar terdiri dari dua buah candi yang serupa dan sebangun dan membatasi sisi kira dan juga sisi kanannya pintu masuk kedalam pekarangan rumah.

Gapura tersebut tidak mempunyai atap yang menjadi penghubung pada bagian atasnya, sehingga membuat kedua sisinya terpisah secara sempurna dan hanya terhubung pada bagian dalam oleh anak tangga yang menjadi jalan masuk melewati Gapura tersebut.

Dalam arsitektur Bali, Gapura Candi Bentar merupakan suatu perwujudan bangunan yang memiliki fungsi untuk keluar masuk dari sisi kesisi lainnya, baik itu dari luar kedalam, ataupun dari dalam keluar.

Pada awal mulanya bangunan Candi ini ketika arsitektur bangunan Bali masih sesuai dengan keadaan ketika masa kerajaan, Gapura Candi Bentar hanya di bangun pada lingkungan Puri atau Istana Raja dan Pura atau tempat suci agama Hindu.

Candi Bentar memiliki bentuk Gapura atau Candi yang terbelah menjadi dua tepat pada bagian tengahnya, sehingga menjadikannya memiliki bentuk yang simetri.

Baik itu di Puri ataupun di Pura, Candi Bentar menempati posisi paling luar dan merupakan pembuka jalan dan sekaligus sebagai tempat penerima untuk mereka yang akan mengunjungi tempat tersebut.

Para Undagi yang mengerjakan bangunan Candi Bentar ini telah mempunyai kepekaan yang sangat tinggi, sehingga membuatnya mencapai hasil yang sesuai dengan peruntukannya.

Undagi memahami betul dimana dan kapan Candi Bentar ini harus tampil megah, normal dan kokoh sesuai dengan tempatnya.

Di Pura yang merupakan Kahyangan Jagat seperti misalnya Pura Ulun Danu Batur atau pada Pura Besakih, nampak bahwa Candi Bentar berdiri dengan kokoh, besar, tinggi (Megah).

Dengan areal Pura yang luas dengan topografi yang tidak rata ikut menambah kemegakan yang terwujud.

Dalam teori modern, para Undagi tersebut telah memperhitunkan dengan baik cara menerapkan beberapa aspek estetika dalam hal ini skala dan proporsi.

Bagian Bagian Rumah Adat Bali

Setelah mengetahui apa yang dimaksud dengan rumah adat bali dan juga Gapura Candi Bentar, berikutnya adalah mengetahui bagian bagian dari rumah adat yang ada di Bali.

Angkul Angkul

rumah adat bali, angkul angkul

Angkul-Angkul ialah sebuah bangunan yang berupa pintu masuk utama dan merupakan satu-satunya pintu untuk dapat masuk kedalam rumah adat di Bali.

Angkul-angkul memiliki fungsi yang hampir sama dengan Gapura Candi Bentar, yaitu sama-sama sebagai pintu masuk.

Sedangkan perbedaannya adalah diantara keduanya, yakni pada bangunan angkul-angkul terdapat sebuah atap yang menjadi penghubung kedua sisi gapura ini.

Atap dari bangunan angkul-angkul ini memiliki bentuk piramida dan terbuat dari rumput kering.

Aling Aling

rumah adat bali, aling aling

Bangunan aling-aling ini memiliki fungsi sebagai tempat pembatas antara angkul-angkul dengan halaman pekarangan atau tempat suci.

Bangunan aling-aling ini dipercaya bisa meningkatkan sifat ruang positif yang muncul karena adanya dinding pembatas yang mengelilingi rumah atau yang biasa disebut dengan penyengker.

Didalam penyengker terdapat sebuah ruangan yang didalmnya terdapat aktivitas dan juga kegiatan yang dilakukan oleh manusia.

Selain terdiri dari tembok, bangunan aling-aling kini sudah banyak yang menggunakan patung sebagai aling-alingnya. Sedangkan penyengker dianggap sebagai tempat yang membatasi antara ruang positif dengan ruang negatif.

Pamerajan

rumah adat bali, pamerajan

Pamerajan atau pura keluarga memiliki keunikan tersendiri dari bagian rumah adat di Bali.

Mayoritas penduduk di Bali merupakan pemeluk agama Hindu, sehingga memiliki pamerajan atau pura tempat untuk melakukan ibadah di dalam rumah.

Pada umumnya pamerajan akan dibangun pada bagian sudut rumah dan disebelah timur laut yang merupakan bangunan suci sekaligus sakral.

Hal tersebut dikarenakan penghuni rumah seringkali melakukan upacara sembahyang dan do’a harian pada bangunan tersebut.

Pamerajan memiliki beberapa bangunan dengan setiap bangunan memiliki fungsi yang berbeda tergantung dari pemiliknya.

Namun ada beberapa bagian yang wajib ada pada bangunan ini yakni, Kemulan, Penglurah, Padmasaro, Taksu, Peliangan dan Piyasan.

Selain bangunan suci utama, terdapat beberapa bangunan suci lainnya misalnya seperti pelinggih penugun karang yang terletak berdekatan dengan pamerajan.

Biasanya pelinggih penugun ini berada pada bagian paling barat yang berguna sebagai tempat unutk pemujaan pada dewa yang telah menghuni pada tempat atau pada tanah yang telah ditempati tersebut.

Bale Meten

rumah adat bali, bale meten

Bale meten atau disebut juga dengan bale daja ialah sebuah bangunan yang digunakan untuk tidur kepala keluar.

Selain itu bale meten juga digunakan sebagai tempat tidur anak gadis yang masih belum bersuami.

Ukuran bangunan ini tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu kecil. Karena fungsi utamanya ialah sebagai tempat untuk tidur.

Selain itu masyarakat Bali juga membanguan bangunan ini ke arah utara yang merupakan ciri khas dari rumah adat di Bali tersebut.

Bale Dauh

rumah adat bali, bale dauh

Bale dauh atau yang biasa disebut jug dengan bale tiang sanga ialah keunikan dari rumah adat di Bali selanjutnya.

Sesuai dengan namanya, bale tiang sanga di dibangun dengan menggunakan sembilan tiang yang berfungsi sebagai penyangga, bangunan ini biasanya digunakan untuk menerima tamu.

Biasanya bale dauh ini dibanguan di sebelah barat dengan bentuk persegi panjang.

Biasanya masyarakat bali juga menambahkan hiasan pada bangunan dengan ukiran kayu dan juga beerapa buah patung yang ada pada setiap sudut ruangannya.

Bale Sekapat

rumah adat bali, bale sekapat

Struktur bangunan ini memang terlihat sederhana yaitu hanya terdiri dari empat tiang yang menjadi penyangga bagian atap dan pada bagian atapnya menggunakan genteng atau jerami.

Variasi lainnya, biasanya bagian atapnya dibuat dengan memiliki bentuk seperti pelana atau limasan yang umumnya dipakai pemiliknya untuk bersantai saat siang hari.

Selain itu biasanya tempat ini juga digunakan untuk berkumpul dengan anggota keluarga.

Bale Gede

rumah adat bali, bale gede

Bangunan bale gede ini mempunyai ciri khas yakni memiliki ukuran bangunan yang besar atau gede.

Jika dibandingkan dengan bangunan lainnya bisa dibilang jika bangunan bale gede merupakan bangunan yang terlihat sebagai bangunan yang mewah.

Bangunan bale gede ini biasanya dipakai untuk kegiatan upacara adat yang mengundang banyak orang.

Para tamu yang datang nantinya akan berkumpul di bale gede lalu kemudian akan melakukan upacara adat dengan membakar aneka jenis sesajen.

Paweregen atau Paon

rumah adat bali, paweregen

Paweregen ialah sebuah bangunan yang mempunyai fungsi seperti halnya dapur yakni berfungsi sebagai tempat untuk membuat masakan juga sekaligus sebagai tempat untuk menyimpan bahan pangan.

Paweregan biasanya selalu ada pada setiap bangunan rumah adat di Bali. Bangunan ini biasanya dibagi menjadi dua bagian.

Pada bagian pertama merupakan tempat terbuka yang biasanya dipakai untuk memasak makanan dengan menggunakan tungku dan juga kayu bakar.

Sedangkan untuk bagian keduanya merupakan ruangan yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan serta peralatan dapur.

Jineng atau Klumpu

rumah adat bali, jineng, klumpu

Jineng merupakan salah satu bagian dari rumah adat di Bali. Bangunan jineng juga bisa disebut oleh masyarakat Bali dengan sebutan Klumpu yaitu suatu tempat untuk menyimpan gabah juga padi.

Bangunan jineng memiliki ukuran yang hampir sama dengan bale sekapat, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.

Pada umumnya masyarakat Bali akan menyimpan gabah mereka yang masih belum kering pada bagian bawah dan untuk padi yang sudah kering akan di simpan pada bagian atasnya.

Tata Letak Rumah Adat Bali

Bahan Bangunan Rumah

Bahan bangunan rumah adat di Bali biasanya menyesuaikan dengan kemampuan dari pemilik rumah tersebut.

Masyarakat Bali biasanya memakai popolan atau tanah liat sebagai dinding bangunan, sedangkan golongan raja dan brahmana menggunakan tumpukan bata.

Untuk tempat suci ataupun tempat pemujaan baik itu miliki satu keluarga ataupun kumpulan kekerabatan biasanya digunakan sesuai dengan kemampuan dari segi ekonomi pemiliknya.

Misalnya bagi yang mempunyai harta lebih bisa menggunakan bahan ata dari ijuk. Namun untuk keuangannya yang terbatas biasanya menggunakan alang-alang atau genting sebagai atapnya.

Ragam Hiasan Rumah Adat Bali

Biasanya rumah adat Bali dipenuhi dengan aneka hiasan, baik itu berupa ukiran, pahatan ataupun pemberian aneka warna pada bangunannya.

Ukiran ataupun pahatan yang ditematkan pada rumah adat tersebut mengambil dari 3 aspek kehidupan di bumi yakni, manusia, hewan dan juga tumbuhan.

Ragam hiasan yang ditempatkan pada bagian bangunan dari jenis tumbuhan antara lain adalah sebagai berikut :

Keketusan

Ialah hiasan yang mengambil pola dari tumbuhan yang dibuat dengan lengkungan lengkungan, bunga-bunga besar juga dedaunan yang lebar.

Hiasan ini biasanya ditempatkan pada bidang-bidang yang luas.

Kekarangan

Kekarangan adalah suatu pahatan dengan motif karangan yang berbentuk menyerupai tumbuhan yang lebat dengan daun yang terusai ke bawah atau juga dapat menyerupai serumpun perdu.

Hiasan ini biasanya dipahatkan pada sudut sebelah atas atau karang simbar. Biasanya kekarangan biasanya ditempatkan pada sendi tiang yang biasa disebut dengan karang suring.

Pepatraan

Hiasan jenis ini trdiri dari beberapa macam, yakni patra wangga yang merupakan hiasan kembang mekar, patra sari yang memiliki bentuk flora dari jenis berbatang yang menjalar dan melingkar, patra bun-bunan, patra pidpid, patra punggel, patra samblung, patra pae dan lain-lainnya.

Ragam hiasan tersebut memiliki arti tertentu sebagai jenis ungkapan keindahan simbol dan sebuah penyampaian pesan atau komunikasi.

Bentuk hiasan dari jenis fauna juga memiliki fungsi sebagai simbol ritual yang ditampilkan dalam patung yang disebut dengan pratima

Penutupan

Nah itulah hal hal mengenai rumah adat Bali, Gapura Candi Bentar, ciri khas dari rumah adat Bali serta bagian-bagiannya.

Semoga dapat bermanfaat dan terima kasih telah berkunjung 🙂


Referensi:


  • Add Your Comment