Cerita Pendakian Gunung Slamet 3428 MDPL via Bambangan

4 min read

Gunung Slamet memiliki ketinggian 3428 MDPL, menjadikannya sebagai gunung tertinggi kedua di pulau Jawa, setelah Semeru. Jalur pendakiannya dapat ditempuh melalui 6 basecamp berbeda, di mana basecamp terpopuler adalah Bambangan di kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Namun yang memiliki pemandangan trek paling indah tentu saja adalah jalur via Baturaden dan Guci.

Setiap hari, sepanjang tahun, selama status gunung dalam kondisi normal, ada saja pendaki yang menanjak menuju puncaknya. Jumlahnya bisa ribuan per harinya.

Mereka menyebar mendirikan tenda di masing-masing pos dari pos 1 hingga pos 8. Bahkan beberapa pendaki nekad nge-camp di pos plawangan yang notabene sangat curam dan merupakan batas vegetasi, di mana di sana sudah tidak lagi ditemukan kehidupan pepohonan.

Namun di pos plawangan masih bisa ditemukan pohon rumput berbunga yang kecil-kecil, hanya saja sudah jarang sekali.

Pendakian Gunung Slamet Via Bambangan

Pendakian gunung Slamet via Bambangan, sebagai jalur terpopuler, dalam seharinya bisa ada 2500 pendaki yang melakukan pendaftaran simaksi di basecampnya. Jumlah ini menjadikan trek dari bawah ke atas selalu saja ada orang.  

Camping ground juga selalu saja penuh, ini pula yang menjadikan beberapa pendaki mendirikan tenda di area terlarang seperti plawangan. Sudah tentu para pendaki memang memilih nge-camp terakhir di pos terakhir sebelum summit.   Ketika pos 7 dan 8 penuh, maka pilih plawangan jadi alternatif yang mematikan.  

Bukan saja kontur tanahnya yang berpasir licin, bongkahan batu merah yang runcing dan mudah berguguran, pos Plawangan ini juga bahaya buat mendirikan tenda karena tiadanya pepohonan besar yang menghadang angin. Sehingga angin kencang langsung menghantam tenda. Kalau bukan pakai tenda kualitas bagus yang tahan badai, sudah pasti tenda rawan terbang.  

Tapi itu semua rela dilakukan pendaki, kalau saja mereka tak kebagian secuil area buat mendirikan tenda di pos 8 atau 7. Daripada harus menyerah dengan kesesakan jalur, dengan mendirikan tenda di pos 5 sebelum summit.  

Baca Juga  Jangan Usik Keelokan Ranukumbolo, Patuhi Aturan Terbaru Untuk Pendaki Ini

Nge-camp di pos 5 juga suatu kesialan, pasalnya kalau mau summit kan barang-barang bawaan seperti carrier dan logistik bakalan ditinggal di tenda. Muncaknya cuma bawa badan dan tas kecil isi perbekalan ringan seperti air minum, cemilan, ponco dan kamera.  

Pemandangan jalur gunung Slamet via Bambangan dari basecamp menuju pos gardu pandang didominasi oleh perkebunan milik warga. Barulah di atas gardu pandang hingga pos 5 sudah masuk ke area hutan. Namun, trekking saat menuju pos 7 ini juga dijumpai banyak pohon mengering tanpa daun, sehingga sangat indah buat berfoto-foto.  

Kalau pos 7-nya sendiri sih pohon besarnya hampir tidak ada, tapi didominasi oleh rumput dan bunga-bunga ilalang. Kontur tanahnya juga landai, sehingga memang pos 7 dianggap paling ideal buat nge-camp terakhir sebelum summit.  

Pemandangan Nan Elok Saat Mendaki Gunung Slamet Via Bambangan

Pemandangan serupa dijumpai di pos 8, kebanyakan adalah bunga-bunga rumput. Dan sudah tentu, di pos 7 hingga 8 ini jika beruntung bakalan menjumpai pohon bunga abadi, yakni bunga Edelweiss yang harum mewangi.  

Sayangnya, habitat bunga Edelweiss di gunung Slamet sudah tinggal 2% saja sepertinya. Alias sudah benar-benar hampir punah. Tidak ada yang namanya Padang Edelweiss di gunung Slamet, yang ada adalah pohon-pohon kecil yang nyempil-nyempit saja di antara tanaman perdu.  

Kualitas bunga Edelweiss di gunung Slamet juga sudah memburuk. Bunganya jarang sekali yang benar-benar tampak mekar bagus. Kebanyakan sudah kering dan begitu kurus. Ranting pohonnya juga tak terurus, seperti hampir tumbang.   Ini bagai menandakan sangat banyak tangan-tangan jahil yang mematahkan pohon ini untuk diambil bunganya.

Kalau bunganya diambilin terus, bagaimana bisa terjadi penyerbukan alami dan pengembang-biakkan? Inilah yang menjadi sebab-musabab bunga Edelweiss hampir punah di gunung Slamet.   Sudah saatnya pemerintah dan otoritas terkait mengubah kebijakan pendakian gunung Slamet.

Baca Juga  Saat Pertama Kali Mendaki Gunung Lawu

Misalnya dengan melakukan pembatasan jumlah pendaki. Angka 2500 atau lebih orang dalam sehari, tentunya ini jumlah yang terlalu banyak.   Namun kabar berhembus sekitar bulan Juli hingga Agustus 2018 kemarin, Simaksi pendakian gunung Slamet mulai diperketat. Sekarang kalau mau mendaki itu wajib melampirkan surat keterangan sehat dari dokter.

Biaya registrasi per orangnya masih sama, di angka Rp60.000/orang.   Nantinya ada satu KTP asli yang ditahan, milik ketua kelompok pendakian yang registrasi itu.   Nampaknya gunung Slamet agak ketinggalan soal syarat Surat Keterangan Dokter (SKD) ini. Pasalnya, gunung-gunung besar seperti Gunung Semeru dan Rinjani sudah terlebih dahulu memberlakukannya.

  Ini bukan sekadar surat tanpa makna, melainkan sepucuk surat yang dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan dan korban hipotermia di gunung Slamet. Seperti di akhir Juni 2018 kemarin, yang dianggap sebagai hari-hari terakhir pendaki dapat ngetrack tanpa SKD. Dengan total jumlah pendaki kurang lebih 2500 orang, ternyata yang jatuh berguguran kena Hipotermia banyak sekali, mencapai puluhan.  

Mereka didominasi oleh pendaki pemula yang mendakinya tidak melihat kondisi badan sendiri alias dipaksakan. Sialnya, para pendaki hipotermia itu berada dalam rombongan tim yang awam pula soal pengetahuan P3K. Sehingga bukannya buru-buru melakukan pertolongan, mereka yang sehat cuma bisa panik.   Ada beberapa perempuan dan laki-laki yang akhirnya tumbang, hampir saja mati karena serangan beku Hipotermia. Untung saja tim SAR sangat sigap menolong.  

Nampaknya di tengah hujanan ribuan pendaki, tim Search and Resque selalu pasang badan di hampir seluruh titik pos pendakian. Inilah yang membuat mereka segera bisa memboyong pendaki hipotermia di atas tandu-tandunya.

Melihat begitu semrawutnya gunung Slamet 3428 meter di atas permukaan laut ini, sudah saatnya memang pikir 100 kali lipat sebelum “ngebet pengen mendaki gunung ini”.   Pastikan badan dalam kondisi prima. Lakukan pula perhitungan yang mantap terkait lokasi mana yang cocok dijadikan camping ground.

Terkadang para pendaki junior rela saja diusir dari camping ground yang normal, seperti misalnya pos 7 dan 8, oleh pendaki senior.   Para pendaki kawakan ini akan bilang “turun saja, camp di pos 5, di atas penuh banget!” Akhirnya pendaki awam ini mengalah camp di pos 5 yang jauh sekali dari puncak. Namun begitu jalan ke atas, ternyata pos 7 dan 8 masih cukup longgar.

Baca Juga  9 Tempat Wisata Bromo Ini Keren Abis! Jangan Terlewatkan Untuk Dieksplore

Namun pemandangan “usir mengusir” dan “saran-menyarankan” soal area camp ini memang hal yang wajar terjadi di sana. Para pendaki memang nge-track dalam skema yang diatur dalam antrian. Jangan sampai terjadi luapan pendaki di satu titik.   Jadi dari bawah sampai puncak harus diatur! Itulah sebabnya memang harus dilakukan pengaturan yang lebih efisien lagi terkait jumlah pendaki.

Terutama pada musim kemarau, jumlahnya harus dibatasi, misalnya cukup 1000 orang pendaki saja.   Semakin banyak dan sering pendaki lalu-lalang di sebuah gunung. Tidak menutup kemungkinan nantinya gunung Slamet bakalan bernasib sama dengan Semeru.   Sering banget jalurnya dibuka-tutup demi perbaikan vegetasi alam gunung.

Nasib buka-tutup jalur tidak hanya terjadi pada gunung yang kebetulan menjadi taman nasional, seperti Rinjani dan Semeru. Bahkan gunung-gunung pendek seperti gunung Prau saja sering ditutup jalurnya karena saking rusaknya lingkungan di sana akibat ulah pendaki.  

Jadi, memang pikirkanlah dulu sebelum mendaki Slamet! Kalau sudah pernah, maksimal cukup 4 kali saja seumur hidup! Setidaknya ini demi kebaikan alam! Kecuali diri sendiri sudah siap dengan segala konsekuensi dan moralitas mendaki, misalnya tidak sembarangan buang sampah dan selalu bawa turun sampah.  

Janganlah jadi pendaki yang bodoh, ceroboh dan sombong! Gunung didaki untuk menambah kecintaan pada alam dan rasa syukur pada Tuhan! Bukannya untuk gaya-gayaan dan wisata semata.

Nah demikianlah cerita pendakian Gunung Slamet yang bisa saya bagikan, jangan lupa untuk membaca cerita pendakian Gunung Lawu yang ada di website saya Vazame.com ya sobat. Terima Kasih semoga bermanfaat.

0

√ Inilah 4+ Alasan Mengapa Perempuan Perlu Menikmati Seduhan…

Manfaat Kopi Bagi Wanita – Selama ini kopi merupakan salah satu minuman yang dianggap sebagai minuman kaum laki-laki, padahal manfaat kopi bukan hanya bagi...
Habiba
2 min read

√ 50+ Model Henna Simple Mudah di Buat (Lengkap…

Model Henna Simple – Saat ini untuk dapat tampil cantik nggak harus selalu memakai make-up dengan tebal maupun menggunakan makeup yang mahal. Karena saat...
Habiba
3 min read

85+ Gambar Henna Tangan, Pengantin, Cantik, Simple dan Mudah…

Gambar henna tangan berikut ini bisa kamu jadikan inspirasi lukisan henna tangan kamu, kamu bisa mempraktekkannya dengan mudah karena disini juga disediakan video cara...
Habiba
35 sec read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *